top of page

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist


Kehidupan adalah suatu pilihan, bukan takdir. Apa yang ditanam hari ini akan menghasilkan buahnya di kemudian hari, apa yang dibangun sekarang menjadi dasar pijakan di masa mendatang. Kehidupan kita seumpama sebuah taman; jika dirawat, ia dapat dinikmati dengan menyenangkan, tetapi tanpa perawatan ia akan berubah menjadi belukar yang menyeramkan. Gaya hidup berantakan membuat kita menjadi sia-sia dan tanpa arah, sehingga banyak peluang sukses akan terlewatkan.

Penyebab :


1. Tidak memiliki tujuan hidup.

Sasaran menentukan kita akan menjadi apa, tanpa sasaran kita tidak akan menjadi apa-apa dan hanya sekedar menjalani hidup yang tanpa arti.


2. Ingin menjadi figur orang lain.

Mungkin ada tokoh yang sangat dikagumi, sehingga kita terobsesi ingin menjadi serupa tokoh itu. Secara negatif, ini membuat kita merasa frustrasi dan kacau karena tiap pribadi adalah unik, dan kita tidak dapat berubah menjadi orang lain.


3. Tidak mengetahui bakat dan kemampuan pribadi.

Persaingan ketat membuat kita harus mampu menggali potensi pribadi, jika tidak mengetahui bakat dan kemampuan yang ada, maka kita sulit memberi makna dan berprestasi dalam hidup, akibatnya kita tidak fokus pada pencapaian kita.

Solusi :


1. Buat peta ‘goal setting’.

Temukanlah maksud yang ingin dikejar dan tetapkan sasaran yang akan dicapai. Pikirkan secara serius tujuan jangka panjang dan jangka pendek, kemudian buat prioritas dan langkah-langkah pencapaian yang terarah dan disiplin.


2. Fokuskan dan kembangkanlah kekuatan.

Seorang yang sukses mencapai potensinya menghabiskan lebih banyak waktu untuk hal yang dapat mereka kerjakan dengan baik ketimbang dikacaukan dengan semua hal sebaliknya.


3. Milikilah keteladanan.

Keteladanan ternyata memiliki kunci kekuatan untuk suatu pengarahan. Jika kita meneladani seorang yang patut diteladani, kita tetap memiliki identitas diri sendiri tapi dengan kualitas teladan untuk menjadi teladan bagi orang lain.

 
 
 

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist


Kadang kala penyesalan datang terlambat. Banyak kerugian atau bahkan kecelakaan bisa terjadi akibat kecerobohan. Sebenarnya kita tidak bermaksud dan tidak menginginkan hal itu, tetapi kecerobohan memang terjadi pada saat tak terduga dan dirasakan akibatnya setelah semuanya menjadi terlanjur. Memang kehidupan kita tidak bisa lepas dari kelalaian dan kekhilafan, tapi jika kita dikenal sebagai orang yang ceroboh, maka kita sulit dipercayakan suatu pekerjaan atau tanggung jawab.

Penyebab :


1. Tidak punya prioritas.

Tanpa prioritas, kita akan bertindak tanpa perencanaan, dan tanpa perencanaan kita menjadi begitu semrawut dan ceroboh sehingga banyak hal bisa terabaikan.


2. Tidak konsentrasi.

Pikiran kita menyimpan memori yang disebut daya ingat. Konsentrasi membantu menyimpan memori sekaligus mengingatnya dengan baik. Tidak berkonsentrasi atas suatu hal, membuat kita sering lupa dan lalai sehingga terjadi kecerobohan.


3. Bersikap ‘easy going’.

‘Easy going’ secara negatif sebenarnya mencerminkan sikap masa bodo, tidak suka repot dan tidak mau menerima tanggung jawab. Ini akar dari sikap ceroboh.

Solusi :


1. Pikirkan benefit dan konsekwensi suatu pekerjaan.

Maka kita bertindak semakin berhati-hati dan detail dalam pelaksanaannya, sehingga skala kecerobohan akan dapat diminimalkan.


2. Cobalah latihan berkonsentrasi.

Konsentrasi bisa ditingkatkan melalui latihan dan daya ingat dapat dikembangkan dengan cara-cara yang kreatif. Kesibukan dan usia bukanlah alasan tepat untuk suatu kelalaian. Penelitian menyebutkan bahwa selama ini kita hanya memakai 10-20% kemampuan otak kita. Jadi, jangan sia-siakan kemampuan pikiran kita.


3. Kembangkan rasa tanggung jawab.

Tanggung jawab bukanlah musuh, tapi karena ia selalu mengikuti kita maka jadikanlah ia sahabat yang dapat membawa kita kepada kesuksesan. Sikap bertanggung jawab adalah lawan dari kecerobohan.

 
 
 

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist

Apa akibat kehendak bebas tanpa sikap bertanggung jawab?

  1. Kehendak bebas cenderung menjadi keinginan atau ambisi yang tak terkendali, sehingga mengakibatkan kehancuran bagi diri sendiri dan orang lain.

  2. Sikap egoisme yang kuat semata-mata demi kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain akan mengakibatkan hubungan dan relasi yang buruk.

  3. Kecenderungan untuk menjadi “penguasa” tunggal bagi diri sendiri dan orang lain akan mengabaikan nilai-nilai moral dan etika, akibatnya menimbulkan situasi “hukum rimba”.

  4. Menimbulkan sikap persaingan yang negative dan kondisi saling menjatuhkan, sehingga mengalami stress, rasa tidak aman dan permusuhan.

  5. Tidak ada nilai-nilai keteladanan, penguasaan diri dan hubungan relasi yang baik.

Halangan dari sikap “ Kebebasan yang bertanggung jawab”

  1. Sikap apatis dan masa bodoh.

  2. Egois dan bersikap seenaknya sendiri.

  3. Sikap menggampangkan segala sesuatu.

  4. Tidak dapat diandalkan.

  5. Mencapai tujuan dengan mengorbankan orang lain.

  6. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

  7. Sering melalaikan tanggung jawab.

  8. Suka memberontak dan kekanak-kanakan.

  9. Sering bimbang dan tidak memiliki ketetapan hati.

Bagaimana mengembangkan sikap “Kebebasan yang bertanggung jawab?

  1. Menguasai keinginan hati dan melatih sikap disiplin diri.

  2. Belajar menghargai dan setia pada perkara-perkara kecil.

  3. Berusaha memahami orang lain dan kepentingan mereka.

  4. Mempertimbangkan setiap konsekwensi sebelum mengambil keputusan.

  5. Mengembangkan sikap mandiri dan kepribadian yang dewasa.

  6. Mengelola kehendak secara praktis ke dalam alternative pilihan yang logis.

  7. Mengembangkan sikap penundukan diri pada otoritas yang ada.

  8. Mengakomodasikan diri dengan baik di lingkungan komunitas atau pergaulan.

  9. Menghargai kepercayaan yang diberikan

 
 
 

Copyright     2020 Life Transformer. All Rights Reserved.   

bottom of page