top of page

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist

Kita semua pasti ingin mempunyai hidup yang berarti, bukan saja bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Rasa empati timbul saat kita menyadari dan dapat merasakan penderitaan orang lain yang ada disekitar kita. Hal itu akan mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang dapat menolong meringankan beban mereka. Dengan berempati maka kita akan disukai dalam pergaulan dan memiliki banyak sahabat yang juga dapat menolong kita saat menghadapi masalah dan kesulitan. Tapi mengapa kita sering sulit untuk berempati ?


PENYEBAB:

1. Fokus pada diri sendiri.

Jika kita hanya memikirkan masalah dan persoalan diri sendiri, maka tidak akan ada waktu dan kesempatan untuk dapat berempati dan menolong meringankan penderitaan orang lain. Karena selagi kita hidup, persoalan akan tetap ada dan tidak pernah habis-habisnya.


2. Pertimbangan untung rugi.

Kita sulit untuk berempati jika hanya memikirkan keuntungan-keuntungan yang bisa didapatkan saat menolong orang lain. Kerelaan untuk turut merasakan beban orang lain dan berkorban untuk memberi pertolongan lahir dari ketulusan hati dan bukan dari hitung-hitungan untung rugi.


3. Merasa tidak dibutuhkan atau membutuhkan orang lain.

Sehingga kita tidak berusaha untuk memberi perhatian kepada orang-orang di sekitar kita, apalagi menyadari beban dan kebutuhan mereka. Kita cenderung berpikir untuk “ mengurus persoalan masing-masing “.

Solution Tips :


1. Buatlah prioritas

Membuat prioritas ternyata bukan hanya bagi diri sendiri saja, tetapi juga berilah kesempatan, tempat dan perhatian bagi orang-orang lain yang ada di sekitar kita.


2. Temukan sukacita saat berempati kepada orang lain.

Ingatlah bahwa keuntungan yang diperoleh tidak hanya berupa hal-hal yang dapat diterima dari orang lain, tetapi juga bisa dari apa yang dapat kita berikan kepada mereka. Ketika kita melakukan hal-hal yang baik, cepat atau lambat kita pasti akan menerima balasannya.


3. Sadarilah bahwa kesendirian itu tidak menyenangkan.

Rasa empati membangun relasi yang dalam dengan sesama kita. Sahabat sejati tidak dapat dibeli dengan uang, tetapi diperoleh dari kedalaman hubungan yang lahir dari rasa empati satu dengan yang lain.

 
 
 

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist

Setiap tujuan yang ingin dicapai pasti mempunyai resiko. Mungkin kita akan berkata, jika demikian lebih baik tidak melakukan sesuatu hal yang baru daripada harus menerima resiko yang tidak diharapkan. Tetapi kenyataannya, bukan hanya hal yang baru tapi bahkan semua perkara yang kita lakukan ternyata mempunyai resiko. Saat melangkah dan menyeberangi jalan kita punya resiko ditabrak, untuk memulai bisnis ada resiko mengalami kerugian, bahkan untuk mencintaipun kita ternyata punya resiko untuk ditolak. Jadi mengapa kita takut untuk mengambil resiko ?

PENYEBAB:


1. Tidak punya prediksi.

Jika mengingat pengalaman masa kecil, ternyata kita tidak menyadari resiko terjatuh saat mulai belajar berjalan, namun kita toh tetap bersemangat untuk belajar berjalan. Pengalaman kemudian membentuk kita untuk selalu berusaha melindungi diri, memberi rasa aman agar tidak mengalami hal-hal yang merugikan dan tidak terduga sebelumnya. Tidak adanya gambaran atau prediksi, dapat membuat kita takut untuk mengambil resiko.


2. Tidak yakin pada kemampuan diri sendiri.

Meragukan diri sendiri akan melumpuhkan semua tindakan dan reaksi kita dalam menghadapi berbagai kemungkinan dan akibat, sehingga kita akan menganggap bahwa mengambil resiko adalah suatu tindakan yang nekad.


3. Tidak melihat keuntungan di balik resiko.

Pandangan pesimis hanya dapat melihat kegagalan, kerugian, kekurangan, bahaya, krisis dan semua hal-hal negatif, tetapi tidak dapat melihat buah dan keuntungan yang diperoleh saat kita memutuskan untuk mengambil resiko.

TIPS SOLUSI

1. Pelajari kondisi dan masalahnya.

Ketika kita mengetahui masalah dengan cermat, maka kita akan dapat memperkirakan, mengantisipasi juga meminimalkan kemungkinan resikonya.


2. Melatih kapasitas pribadi.

Seorang pemain bulutangkis mungkin tidak menduga datangnya setiap bola yang dikembalikan oleh lawannya, namun hal terbaik yang dapat dilakukan adalah melatih dirinya untuk dapat menerima bola dari segala arah. Kesiapan kita menerima resiko lebih baik daripada setiap usaha untuk menolak resiko.


3. Melakukan hal-hal baru adalah warna kehidupan.

Semua yang rutin terasa membosankan, dan kebosanan juga dapat membuat hidup kita lebih buruk daripada mengambil resiko dengan tantangan baru.

 
 
 

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist


Mungkin hal ini terjadi pada orang lain atau bahkan pada diri kita sendiri, kenapa kita mudah sekali marah?


Kemarahan tidak terjadi begitu saja, pasti ada pemicunya; mungkin ada hal-hal yang sensitif ataupun prinsip yang terlanggar sehingga timbul kemarahan. Kita perlu merenungkan tentang kemarahan karena ada kemarahan yang positif dan yang negatif. Kemarahan positif berkaitan dengan teguran dan pelanggaran disiplin. Namun kemarahan negatif adalah pelampiasan kekesalan, rasa jengkel, disertai sikap penghakiman yang cenderung subyektif, tanpa sebab atau arah yang jelas, dan dapat mengakibatkan kerugian terhadap orang lain terlebih pada diri sendiri.


PENYEBAB:

1. Masalah harga diri

Jika harga diri diabaikan, dilecehkan atau dihinakan akan menimbulkan kemarahan.


2. Kecewa karena keinginan tidak terpenuhi.

Jika kita telah merencanakan, mengusahakan sesuatu dan meminta oang lain untuk melakukannya bagi kita, namun berulang-ulang diabaikan, hal ini bisa memicu kekesalan dan kemarahan.


3. Kenyamanan dan hak terusik

Jika hak-hak dan kenyamanan kita terusik oleh orang lain atau situasi, kita bisa menjadi marah dan berusaha untuk mempertahankannya


TIPS SOLUSI:

1. Tarik nafas panjang

Kemarahan biasanya dipicu oleh hormon adrenalin, karena itu tarik nafas panjang dan atur pernafasan dengan baik. Ini akan membantu mengontrol aliran adrenalin.


2. Hindari faktor yang membuat masalah.

Biasanya kita sulit menghindari hal-hal yang memicu kemarahan, namun kita dapat mencoba untuk mengalihkan perhatian kepada hal-hal yang lain.


3. Ekspresikan kemarahan dengan cara yang benar.

Beberapa ekspresi dapat membantu meredakan kemarahan kita dan pihak lawan, misalnya; berbicara dengan intonasi datar, tersenyum atau dengan selingan humor untuk menyatakan tidak setuju. Mengelola kemarahan adalah suatu seni, jika berhasil akan sangat menarik dan kita bisa disebut orang yang bijaksana.


4. Berpikir obyektif

Setiap orang memiliki tombol merah yang dapat memicu kemarahannya, misalnya; harga diri, keluarga, pekerjaan atau masa lalu. Dengan mengetahuinya kita dapat menghindari kemarahan yang bisa terjadi.

 
 
 

Copyright     2020 Life Transformer. All Rights Reserved.   

bottom of page