top of page

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist

Setiap manusia diciptakan dengan kesadaran dan keinginan akan kehendak bebas. Namun di lain pihak, setiap pribadi merupakan mahkluk yang interdependent, memiliki sikap saling ketergantungan dengan alam dan lingkungan, sesama manusia dan kepada Tuhan.


Hubungan ini membuat adanya batasan-batasan yang menjadi tanggung jawab pribadi agar tercipta keseimbangan dan harmonisasi dari hubungan tersebut.


Kehendak bebas menjadi topik yang hangat dipermasalahkan khususnya jika dikaitkan dengan sikap tanggung jawab pribadi.


Memahami arti “Kebebasan yang Bertanggung jawab”

  1. Tindakan untuk mengambil keputusan sendiri tanpa tekanan dari siapapun.

  2. Kemampuan untuk mengelola keinginan pribadi dengan memperhitungkan segala konsekwensi dan akibatnya.

  3. Proses menciptakan pilihan-pilihan sendiri, cara pencapaian dan pelaksanaannya dengan tidak merugikan orang lain.

  4. Kemampuan untuk menetapkan dan melaksanakan goals berdasarkan pertimbangan obyektif.

  5. Kesanggupan untuk mengelola hak memilih dengan bebas tanpa disertai sikap terpaksa atau menuntut dan memberontak.

Mengapa memiliki kehendak bebas itu penting?

  1. Kehendak bebas merupakan anugrah bagi setiap manusia untuk mengembangkan potensi dan nilai-nilai pribadinya.

  2. Kehendak bebas adalah harkat hidup manusia.

  3. Tanpa kehendak bebas, manusia akan menjadi seperti robot yang tidak memiliki keinginan dan keputusan sendiri.

  4. Tidak adanya kebebasan, kehendak mempengaruhi kondisi mental seseorang, sehingga dapat menimbulkan depresi, sikap apatis, sebaliknya di lain pihak juga dapat menimbulkan ketidak puasan dan sikap pemberontakan.

Hal-hal apa yang membuat seseorang kehilangan kehendak bebas?

  1. Selalu berada di bawah tekanan atau kendali seseorang atau suatu keadaan yang memaksa.

  2. Tidak memiliki keberanian untuk mengambil keputusan, selalu dipermainkan oleh nasib, ketidak pastian dan keadaan sekitar.

  3. Terjerat dalam kondisi yang buruk, sikap ketergantungan dan frustasi.

  4. Dikuasai oleh keinginan dan ambisi tertentu sehingga tanpa sadar seluruh kehendaknya justru telah ditaklukkan oleh ambisi tersebut.

 
 
 

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist

Seorang pemuda pernah datang dan mengeluh tentang kesulitannya mencari pasangan hidup sesuai keinginannya. Ketika saya bertanya tentang saran yang pernah ia terima, ia mengatakan, “Kamu terlalu perfeksionis! Itulah sebabnya kamu sulit mendapatkan yang sesuai untukmu”.Saran seperti itu tidak membuat hatinya tenang, karena seolah-olah ia diharuskan mengubah keinginan dan impiannya mengenai pendamping hidup

.

Saya mengatakan, “Jangan kompromikan apa yang kamu anggap sebagai kebenaran. Tapi, belajarlah untuk menoleransi keunikan dan karakter orang lain ketika menjalin relasi dengan mereka”.


Ada perbedaan mendasar antara kompromi dan toleransi. Orang yang berkompromi berarti menyatakan bahwa standar kebenarannya dapat dikurangi demi kepentingan bersama dan mengakui bahwa standar kebenaran yang ia miliki dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Kompromi inilah yang menjadi cikal bakal praktik “salah menjadi benar dan benar menjadi salah”.


Menurut hasil survei karakter, 86% orang cenderung melakukan kompromi dan 97% orang mempunyai potensi untuk melakukan toleransi, tetapi cenderung melakukan kompromi.


Keuntungan dan Teladan Toleransi

Toleransi memperluas wawasan dan pemahaman mengenai manusia dan kehidupan, tidak mudah menghakimi pribadi orang lain, mampu mempertimbangkan lebih banyak hal, membuat orang yang bersalah tidak takut untuk meminta bantuan dan pengampunan dari kita, dan membuat orang-orang mau mengikuti kita, mendengarkan kita dan dipimpin oleh kita. Toleransi merupakan teladan Tuhan Yesus, yang tidak pernah mengkompromikan dosa. Namun, Ia mengerti keterbatasan dan kelemahan kita. Ia memiliki rasa belas kasihan hingga rela turun ke dunia dan membantu kita mengatasi kelemahan-kelemahan kita.


Halangan Toleransi Tidak Tegas

Kebanyakan orang takut bertindak tegas karena menganggap/takut dianggap sebagai legalis yang berdarah dingin. Sebaliknya dengan menyatakan kebenaran dengan tegas, kita justru memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mengetahui kesalahannya dan memperbaiki diri. Dengan bertindak tidak tegas dan mengkompromikan kesalahan, kita makin menjerumuskan orang lain dan diri kita ke kehancuran.


Kesombongan

Kesombongan membawa kita pada pemikiran bahwa “prinsip saya yang terbaik, dan semua orang harus mengikutinya”. Kesombongan menutup pintu wawasan sehingga kita hanya mengizinkan informasi-informasi yang kita sukai masuk dalam diri kita. Kesombongan menyebabkan kita melewatkan pelajaran-pelajaran berharga yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita.


Tidak Punya Nilai

Nilai-nilai yang kita pegang berfungsi sebagai pilar penopang. Nilai itulah yang akan menopang segala keputusan dan menentukan sejauh mana kita dapat menoleransi suatu hal atau telah jatuh dalam kompromi. Tanpa penopang, sebuah bangunan tidak akan dapat berdiri tegak. Tanpa hukum, sebuah negara akan menjadi kacau. Tanpa nilai-nilai yang jelas, sebuah perusahaan, keluarga, atau bahkan seseorang akan terjatuh ke dalam kompromi demi kompromi.


Bagaimana Melatih Toleransi?

Kembali ke cerita pemuda tadi, tips yang saya berikan padanya agar mengembangkan kemampuan toleransi dan menghindari menjadi orang yang kompromis adalah:

  1. Tentukan prinsip-prinsip mana yang bersifat mutlak dan mana yang masih dapat diubah

  2. Belajar lebih terbuka untuk memahami perbedaan dan keunikan orang lain serta melihat hal-hal positif di dalamnya.

  3. Belajar untuk mengintegrasikan hal-hal positif yang ada pada keunikan orang lain ke dalam prinsip-prinsip kita yang bersifat tidak mutlak.

Beberapa waktu kemudian, saya bertemu kembali dengan pemuda tersebut dan ia telah menemukan calon pasangan hidupnya. Ia mengatakan bahwa setelah belajar melakukan toleransi, ia dapat melihat bahwa perbedaan justru membuat ia dapat menerima keunikan orang lain dan melihatnya sebagai kerja sama yang sinergis. Kekuatannya menutupi titik kritis pasangannya begitu pula sebaliknya.

 
 
 

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist

Proses belajar tidak terbatas pada studi formal saja, tetapi terjadi setiap hari


Denis Waitley, seorang penulis dan motivator di Amerika mengatakan, “Losers live in the past. Winners learn from the past and enjoy working in the present toward the future.” Para pecundang hidup di masa lalu. Para pemenang belajar dari masa lalu dan menikmati bekerja pada saat ini menuju ke masa depan.


Proses belajar seharusnya bukan hanya sekadar menguasai bidang ilmu tertentu atau mencapai sejumlah gelar akademis. Belajar adalah proses mengetahui, mengamati, memahami, dan mengaplikasikan informasi, kemampuan, dan hikmat, yang dapat mengembangkan paradigma, memperkokoh prinsip, dan meningkatkan kualitas hidup seseorang.


Belajar bukan hanya bertujuan menambah pengetahuan, melainkan menransformasi kehidupan seseorang. Raja Salomo mengatakan, belajar yang hanya bertujuan menambah pengetahuan hanya akan “melelahkan jiwa dan raga”.


Dari Mana dan Kepada Siapa


Tuhan telah mendirikan sekolah yang dinamakan kehidupan. Anda telah berada di dalamnya. Bersedia atau tidak mengikuti kurikulum dan sistem pembelajarannya, itu terserah Anda. Interaksi yang kita miliki dengan orang lain, buku, musik, film ; tantangan dan harapan yang kita miliki telah direncanakan Tuhan sebagai sarana untuk belajar.


Ray Le Blond, direktur sebuah perusahaan komunikasi pariwisata di British Columbia mengatakan : “You learn something every day if you pay attention.” Anda akan belajar setiap hari jika Anda memperhatikan.


Jebakan Tersembunyi


Beberapa hambatan yang menghalangi kita untuk memperoleh dan menikmati manfaat terbaik dari hidup sebagai sarana belajar antara lain:


1.Kemalasan Kemalasan membuat kita tidur di zona nyaman kita dan tidak mengembangkan batasan-batasan kemampuan kita sebagaimana yang Tuhan inginkan.


2.Kesombongan Kesombongan membuat kita membatasi cara kerja Tuhan dalam hidup kita. Kesombongan berarti mengatakan pada Tuhan bahwa, “menurut saya, hanya hal-hal inilah yang perlu saya pelajari, dan dengan cara-cara ini saja saya akan mempelajarinya.”


3.Penundaan Tidak semua hal perlu dikerjakan dengan segera. Akan tetapi kecenderungan untuk menunda banyak hal di dalam hidup membuat kita melewatkan banyak kesempatan menerima pelajaran dari sang Guru Agung.


4.Prioritas yang salah Prioritas yang salah akan menyebabkan kita memilih topik-topik pembelajaran yang terus berulang.


5.Asumsi negatif Asumsi bukanlah fakta melainkan anggapan. Asumsi negatif menjauhkan kita dari potensi kreatif kita. Mengurung kita dari kekayaan hidup yang telah Tuhan sediakan.


6.Rutinitas Rutinitas berpotensi membuat segala sesuatu menjadi hambar, “biasa”, dan tidak menarik. Dengan melatih kepekaan, untuk melihat dan mendengar pelajaran, maka kita akan mendapati bahwa hidup ini tidak pernah hambar melainkan selalu menarik untuk dipelajari.


Jika kita dapat memanfaatkan segala hal yang sudah Tuhan sediakan dalam hidup kita sebagai sarana pembelajaran, maka sebetulnya kita akan dapat melakukan halhal di bawah ini :

- Membentuk prinsip-prinsip hidup yang lebih baik dan kokoh

- Mengembangkan dan memaksimalkan kemampuan

- Memperluas wawasan

- Meningkatkan kualitas hidup

- Mengatasi rintangan

- Mengubah tantangan menjadi kesempatan

- Menjadikan pembelajaran seumur hidup sebagai jalan bagi damai sejahtera


The Word of Wisdom:

“Pengalaman adalah guru yang keras. Tetapi Anda akan dipaksa untuk belajar." (C.S. Lewis)

 
 
 

Copyright     2020 Life Transformer. All Rights Reserved.   

bottom of page