top of page

Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist


Secara positif, rasa curiga merupakan ‘alarm’ untuk mengingatkan kita terhadap berbagai bahaya yang mungkin dapat mengancam atau merugikan, sehingga kita dapat selalu bersikap waspada dan berjaga-jaga. Tetapi, alangkah tertekannya hidup ini menghadapi kecurigaan yang terlalu besar atau jika kita selalu dipenuhi dengan kecurigaan yang tidak beralasan. Mengapa kita bisa dijerat oleh kecurigaan ?

Penyebab :


1. Ada ketakutan / trauma yang tidak dapat diatasi.

Jika kita mengira bisa lari dari ketakutan dan trauma dengan cara menghindari atau mengabaikannya, maka hal ini justru akan menimbulkan masalah baru, yaitu kecurigaan terhadap hal-hal yang dapat menakutkan kita.


2. Perasaan tidak percaya / tidak aman.

Pengkhianatan menghasilkan ketidak percayaan dan penipuan menimbulkan rasa tidak aman, hal ini membentuk sikap mudah curiga terhadap orang lain.


3. Menyimpan sikap negatif.

Pikiran negatif menyebabkan semua hal seakan-akan melawan kita, sehingga membangkitkan rasa curiga yang membuat kita tertekan dan tidak bebas membangun hubungan yang baik dengan sesama.

Solusi :


1. Memulihkan trauma dengan mengatasi ketakutan yang ada.

Ketakutan dan trauma adalah mimpi buruk, ia hanya dapat menteror kita tapi tidak mampu menjamah kita. Sebab itu kalahkan ketakutan atau trauma, hadapi dengan keberanian, bersikap realistis dan bersandarlah pada pertolongan Tuhan.


2. Memaafkan orang yang bersalah.

Ketika kita memaafkan dan melupakan kesalahan orang yang mengkhianati atau telah menipu kita, maka kita akan merasa tenteram, terbebas dari permusuhan dan dendam atau sikap yang penuh kecurigaan.


3. Belajar menerima orang lain.

Kesediaan kita menerima orang lain apa adanya, pasti akan membuka pintu persahabatan, saling mengenal, membangun kepercayaan dan peluang-peluang untuk kemitraan. Semua hal ini akan menepis berbagai pikiran negatif.

 
 
 

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist


Kadang kala penyesalan datang terlambat. Banyak kerugian atau bahkan kecelakaan bisa terjadi akibat kecerobohan. Sebenarnya kita tidak bermaksud dan tidak menginginkan hal itu, tetapi kecerobohan memang terjadi pada saat tak terduga dan dirasakan akibatnya setelah semuanya menjadi terlanjur. Memang kehidupan kita tidak bisa lepas dari kelalaian dan kekhilafan, tapi jika kita dikenal sebagai orang yang ceroboh, maka kita sulit dipercayakan suatu pekerjaan atau tanggung jawab.

Penyebab :


1. Tidak punya prioritas.

Tanpa prioritas, kita akan bertindak tanpa perencanaan, dan tanpa perencanaan kita menjadi begitu semrawut dan ceroboh sehingga banyak hal bisa terabaikan.


2. Tidak konsentrasi.

Pikiran kita menyimpan memori yang disebut daya ingat. Konsentrasi membantu menyimpan memori sekaligus mengingatnya dengan baik. Tidak berkonsentrasi atas suatu hal, membuat kita sering lupa dan lalai sehingga terjadi kecerobohan.


3. Bersikap ‘easy going’.

‘Easy going’ secara negatif sebenarnya mencerminkan sikap masa bodo, tidak suka repot dan tidak mau menerima tanggung jawab. Ini akar dari sikap ceroboh.

Solusi :


1. Pikirkan benefit dan konsekwensi suatu pekerjaan.

Maka kita bertindak semakin berhati-hati dan detail dalam pelaksanaannya, sehingga skala kecerobohan akan dapat diminimalkan.


2. Cobalah latihan berkonsentrasi.

Konsentrasi bisa ditingkatkan melalui latihan dan daya ingat dapat dikembangkan dengan cara-cara yang kreatif. Kesibukan dan usia bukanlah alasan tepat untuk suatu kelalaian. Penelitian menyebutkan bahwa selama ini kita hanya memakai 10-20% kemampuan otak kita. Jadi, jangan sia-siakan kemampuan pikiran kita.


3. Kembangkan rasa tanggung jawab.

Tanggung jawab bukanlah musuh, tapi karena ia selalu mengikuti kita maka jadikanlah ia sahabat yang dapat membawa kita kepada kesuksesan. Sikap bertanggung jawab adalah lawan dari kecerobohan.

 
 
 

#Sumber : Jakoep Ezra - Character Specialist

Apa akibat kehendak bebas tanpa sikap bertanggung jawab?

  1. Kehendak bebas cenderung menjadi keinginan atau ambisi yang tak terkendali, sehingga mengakibatkan kehancuran bagi diri sendiri dan orang lain.

  2. Sikap egoisme yang kuat semata-mata demi kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain akan mengakibatkan hubungan dan relasi yang buruk.

  3. Kecenderungan untuk menjadi “penguasa” tunggal bagi diri sendiri dan orang lain akan mengabaikan nilai-nilai moral dan etika, akibatnya menimbulkan situasi “hukum rimba”.

  4. Menimbulkan sikap persaingan yang negative dan kondisi saling menjatuhkan, sehingga mengalami stress, rasa tidak aman dan permusuhan.

  5. Tidak ada nilai-nilai keteladanan, penguasaan diri dan hubungan relasi yang baik.

Halangan dari sikap “ Kebebasan yang bertanggung jawab”

  1. Sikap apatis dan masa bodoh.

  2. Egois dan bersikap seenaknya sendiri.

  3. Sikap menggampangkan segala sesuatu.

  4. Tidak dapat diandalkan.

  5. Mencapai tujuan dengan mengorbankan orang lain.

  6. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

  7. Sering melalaikan tanggung jawab.

  8. Suka memberontak dan kekanak-kanakan.

  9. Sering bimbang dan tidak memiliki ketetapan hati.

Bagaimana mengembangkan sikap “Kebebasan yang bertanggung jawab?

  1. Menguasai keinginan hati dan melatih sikap disiplin diri.

  2. Belajar menghargai dan setia pada perkara-perkara kecil.

  3. Berusaha memahami orang lain dan kepentingan mereka.

  4. Mempertimbangkan setiap konsekwensi sebelum mengambil keputusan.

  5. Mengembangkan sikap mandiri dan kepribadian yang dewasa.

  6. Mengelola kehendak secara praktis ke dalam alternative pilihan yang logis.

  7. Mengembangkan sikap penundukan diri pada otoritas yang ada.

  8. Mengakomodasikan diri dengan baik di lingkungan komunitas atau pergaulan.

  9. Menghargai kepercayaan yang diberikan

 
 
 

Copyright     2020 Life Transformer. All Rights Reserved.   

bottom of page